Berita

BRMS Melunasi Tagihan Credit Suisse

Isu utang dalam tubuh Grup Bakrie satu per satu mulai terurai. Kini, giliran PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang telah melunasi kewajibannya senilai sekitar US$ 100 juta kepada Credit Suisse. Herwin Hidayat, Direktur & Investor Relations BRMS, memastikan, proses pelunasannya sudah tuntas. “Saham Dairi harus lepas dari jaminan sebelum terjadi transfer kepemilikan ke NFC,” terang Herwin, Senin (24/9). Sedikit menengok ke belakang, BRMS memperoleh pinjaman US$ 110 juta dari Credit Suisse pada 2012.

Sebagian saham PT Dairi Prima Mineral menjadi jaminannya. Sejatinya, pinjaman ini jatuh tempo paling lambat 19 September 2013. Namun, pinjaman tersebut justru beberapa kali direstrukturisasi, hingga pada akhirnya baru akan jatuh tempo pada Desember 2018. Lalu, pada Juni 2017 BRMS dan NFC China meneken conditional share purchase agreement (CSPA) untuk mengalihkan 51% saham Dairi Prima dalam BRMS kepada NFC. Nilai transaksinya mencapai US$ 198 juta. Penutupan transaksinya sudah dilakukan sekaligus sebagai penanda dimulainya kemitraan bisnis antara BRMS dan NFC. Nah, sebesar US$ 107 juta dari total US$ 198 juta itu digunakan untuk melunasi utang.

Sebelum transaksi ini, total utang BRMS mencapai US$ 161,32 juta. Setelah transaksi, utang perusahaan bakal berkurang menjadi US$ 53,99 juta. Debt to equity ratio (DER) BRMS bakal berkurang menjadi 0,09 kali dari sebelumnya 0,29 kali. BRMS juga bakal menggunakan US$ 57,24 juta untuk akuisisi 20% saham Dairi Prima milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Keduanya telah meneken perjanjian jual beli tersebut pada akhir tahun 2017.

Modal ekspansi
Bayar utang sudah, pelunasan ke ANTM juga sudah. Sekarang, BRMS memiliki sisa duit hasil divestasi minimal sekitar US$ 33 juta. Dana yang ini akan digunakan untuk ekspansi, di antaranya untuk tambang emas di Palu melalui anak usahanya, PT Citra Palu Minerals. Proyek dengan nilai investasi sekitar US$ 150 juta ini ditargetkan beroperasi akhir tahun 2020. “Itu operasi secara komersial, mulai semester II-2020, dengan target produksi 600.000 ton bijih emas per tahun” jelas Herwin. BRMS juga masih mampu memaksimalkan potensi pendapatan dari Dairi Prima. Sebab, perusahaan ini masih memiliki 49% saham di perusahaan yang ditargetkan memproduksi 1 juta ton seng dan bauksit, tahun 2020. Suseno Kramadibrata, Direktur & COO BRMS, menuturkan, masuknya NFC ke Dairi Prima bakal memperkuat struktur bisnis perusahaan tersebut. “Kami berharap, dengan masuk ke Dairi Prima bisa membuat perusahaan ini menjadi pemimpin pasar mulai tahun 2020,” imbuh dia.