Bisnis

Investor Memburu Aset Yang Lebih Aman

Potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada pekan ini memicu investor untuk beralih ke aset yang lebih aman. Kecenderungan ini akan menggeser bursa saham yang telah menjadi idola investor selama satu dekade terakhir. Aset lebih minim risiko, seperti obligasi, akan menjadi alternatif paling menarik. Selama pasar bullish pada Agustus kemarin di tengah suku bunga acuan rendah, membuat sebagian besar aset fixed income, kecuali surat utang yang berbunga tinggi, menghasilkan return minimal.

Hal ini telah mendorong investor beralih ke saham yang lebih mendatangkan yield. “Salah satu pengaruh besar di pasar selama satu dekade terakhir adalah obligasi sebagai instrumen alternatif kini memiliki ketersediaan melimpah di pasar,” kata Jack Ablin, kepala investasi di Cresset Wealth Advisors di Chicago seperti dikutip Reuters. The Fed mengakhiri era suku bunga rendah ketika mulai menaikkan suku bunga acuan pada akhir 2015.

Sejak saat itu, obligasi secara perlahan kembali memberikan return yang riil dibandingkan tingkat in?asi. Nah, tindakan antisipatif dari kenaikan suku bunga nanti, pasar uang akan bergabung. Berbagai macam aset di pasar uang akhirnya akan mendapatkan return rill yang setara dengan inflasi. Ini akan menjadi yang pertama kali sejak awal 2008. “Ini tentu memberi dorongan ke pasar uang. Sebab ada keengganan pasar terhadap risiko,” kata Ablin. Pasar akan lebih mencari aset yang aman ketimbang aset yang berisiko. “Rezim kekurangan aset aman sudah berakhir. Kita sekarang berada dalam rezim aset aman yang berlimpah,” ujar Zoltan Pozsar, analis Credit Suisse Group AG dalam sebuah catatan baru-baru ini.

Saham sudah mahal
Perbandingan antara harga saham dengan laba bersih emiten di bursa saham atau price to earning (P/E) di bursa saham saat ini 17,2 kali versus rata-rata historis P/E di level 15. Valuasi itu sekarang mungkin terlihat sedikit mahal, terutama dengan pertumbuhan laba emiten yang diperkirakan akan moderat. “Selama pertumbuhan laba melampaui kenaikan suku bunga, saham seharusnya baik-baik saja. Jika pertumbuhan laba emiten melambat dibandingkan dengan kenaikan suku bunga, maka Anda punya masalah,” kata Oliver Pursche, kepala strategi pasar di Bruderman Asset Management di New York.

China Janji Lawan Trump
China berjanji akan membalas kebijakan terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang mengenakan tarif 10% atas produk buatan China. Jika dinominalkan, tarif itu setara dengan US$ 200 miliar. “AS bersikeras menerapkan tarif baru yang membawa ketidakpastian dalam negosiasi bilateral. Kami harap, AS akan menyadari konsekuensi negatif dari sikap ini dan melakukan koreksi,” kata Kementerian Perdagangan China, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (18/9). Begitu juga dengan Kementerian Luar Negeri China yang mengatakan akan melakukan tindak balasan yang pantas. tanpa menyebut kapan akan merealisasikan langkah itu. Menteri Luar Negeri China Geng Shuang belum menyebut apa tindakan balasan yang akan dilakukan.

“Kami akan umumkan nanti pada saatnya,” katanya, seperti dikutip dari Washington Post. Beijing berharap, Trump bisa memperbaiki keputusannya sebelum 24 September. Sebelumnya Trump mengatakan akan menggandakan tarif impor dari China pada 2019 mendatang, serta mengenakan tambahan lagi, jika China tak menuruti keinginannya. Tarif itu setara US$ 267 miliar.