Berita,  Keuangan

Pasar Saham dan Keuangan Mulai Membaik

Mulai pekan ini, perang dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia, Amerika Serikat vs China, resmi berkobar. Terlepas dari panasnya kobaran perang antar adidaya itu, periode trade war ini justru menghilangkan satu ketidakpastian yang selama ini membayangi pasar global. Pun secara umum, ketidakpastian di pasar keuangan berangsur-angsur turun pada pekan ini. Sebab, The Fed akan menaikkan suku bunga pada rapat pekan ini, dan masih menyisakan satu kali lagi pada Desember nanti. Memang, di dalam negeri masih ada sentimen tahun politik. Tapi, pelaku pasar yakin, kampanye akan berjalan tenang dan lancar.

Itu sebabnya, pasar disinyalir lebih tenang di kuartal terakhir ini. Head of LOTS Services Lotus Andalan Sekuritas Krishna Dwi Setiawan menilai, pemicu besar yang menyebabkan IHSG tertekan sudah terlihat semua. “Sampai akhir tahun, berharap ada perbaikan pada IHSG,” kata dia, Selasa (25/9). Cuma, pelemahan rupiah masih saja memberati laju pasar.

Kemarin, kurs spot rup i ah sempa t mencapa i Rp 14.909 per dollar AS. Toh, Krishna yakin rupiah berangsur akan mereda, seiring upaya pemerintah menambal de? sit neraca dagang. Apalagi, laporan keuangan emiten kuartal III-2018 diproyeksikan masih positif. Dengan begitu, dana asing bisa masuk lagi, sehingga cadangan devisa akan lebih stabil. Pada gilirannya, rupiah bisa menguat lagi. Dus, Khrisna optimistis IHSG bisa ditutup di 6.100 akhir tahun ini. Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana sepakat faktor internal bakal menopang indeks.

Laporan keuangan emiten di kuartal III yang diprediksi tetap solid meski rupiah melemah akan menjadi sentimen positif. Wawan melihat peluang kenaikan IHSG di kuartal keempat terbuka. Apalagi dana asing berpeluang masuk pada Desember, karena aktivitas window dressing.

Koreksi jangka pendek
Momentum pilpres juga berpeluang memberikan sentimen positif. Berkaca pada pilpres sebelumnya, IHSG tidak pernah negatif di tahun politik. Proyeksi Wawan, hingga akhir 2018, IHSG bisa bertengger di 6.400, dengan asumsi kurs rupiah stabil di Rp 14.800Rp 14.900 per dolar AS. Ihwal otot rupiah, Morgan Stanley telah menaikkan peringkat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi netral dari semula negatif. Perusahaan investasi global ini melihat emerging market mampu menyesuaikan diri dengan situasi global. Analis Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya juga yakin IHSG akan menguat sampai akhir tahun ini. Cadangan devisa akan meningkat seiring geliat pariwisata akhir tahun dan pertemuan Bank Dunia di Bali. Pekan ini, Khrisna menilai, IHSG akan dipengaruhi sentimen rapat FOMC. “Support IHSG di 5.800 dan resistance 5.930,” prediksi dia. Wawan juga melihat potensi koreksi dengan kisaran IHSG pekan ini antara 5.800-5.900. Namun, dengan prospek menguat di sisa tahun ini, Khrisna dan Wawan menyebut, investor bisa memanfaatkan momentum koreksi untuk kembali koleksi saham. William merekomendasikan beli saham sektor infrastruktur telekomunikasi, konsumer dan perbankan.