Berita

Setoran Dividen di BEI Terpantau Naik

Setoran dividen emiten-emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tren kenaikan. Lihat saja, jumlah dividen yang dibagikan dari laba 2017, yang mencapai Rp 137,7 triliun, meningkat 14,5% year on year (yoy). Khusus emiten badan usaha milik negara (BUMN), ditargetkan besaran dividen tahun buku 2018 yang akan dibagikan kepada pemegang saham bakal lebih besar. Pemerintah mematok emiten pelat merah bisa menyetor dividen sebesar Rp 45,6 triliun, naik dari dividen tahun buku 2017 sejumlah Rp 43 triliun Tren peningkatan jumlah dividen ini bisa dimanfaatkan oleh investor jangka panjang yang mengincar dividen.

Namun, Teuku Hendry Andrean, Research Manager Shinhan Sekuritas Indonesia, menyebut, investor perlu memperhatikan sejumlah faktor sebelum memilih saham pembagi dividen. “Investor bisa mencermati emiten yang punya historikal pembagian dividen dan performa sektornya sedang positif,” terang dia, Senin (24/9). Menurut Hendry, di antara emiten BUMN, sejumlah saham masih layak dipertimbangkan untuk jangka panjang, seperti Telekomunikasi Indonesia (TLKM) dan Bukit Asam (PTBA).

Lihat yield dividen
TLKM dikenal selalu rajin membagi dividen dalam jumlah besar. Sedangkan, PTBA merupakan emiten sektor pertambangan yang memang sedang naik daun. Lanjut Hendry, untuk emiten non-BUMN, Unilever Indonesia (UNVR) yang rutin membagikan dividen, juga layak dipertimbangkan. Menurut dia, investor dengan horizon investasi jangka panjang, sudah bisa melakukan akumulasi beli saham-saham pembagi dividen. “Apalagi jika secara historis yield dividen terus meningkat,” saran Hendry. Analis Lotus Andalan Sekuritas Khrisna Setiawan menilai, bagi investor, dividen bukan faktor dominan dalam pengambilan keputusan.

Sebab, dalam setahun, pendapatan yang berasal dari dividen kemungkinan hanya sekitar 2% sampai 3%. “Kecuali investor dengan kapasitas dana sangat besar, dividen akan sangat berpengaruh,” kata Khrisna, Senin (24/9). Menurut dia, yield dividen akan sangat berpengaruh bagi investor-investor instritusi, seperti BPJS, dana pensiun atau mutual fund besar. Meski begitu, Khrisna memberikan acuan bagi investor yang mengejar dividen. Selain mencermati emiten yang secara historis rajin menebar dividen, penting untuk menghitung besaran yield dividen atau hasil bagi antara nilai dividen per saham dengan harga saham.

“Jika yield di kisaran 3% atau lebih, akan menarik bagi investor,” papar dia. Analis Reliance Sekuritas Aji Setiawan menyebut, kenaikan target dividen BUMN untuk tahun buku 2018 sebesar 6% jadi Rp 45,60 triliun tidak selalu bisa dijadikan acuan membeli saham-saham pembagi dividen. “Untuk jangka pendek sebaiknya investor tetap memperhatikan kondisi pasar yang masih kurang stabil, karena masih rentannya pelemahan rupiah terhadap dollar AS,” papar Aji. Namun, untuk jangka panjang, lanjut Aji, investor sudah bisa mengakumulasi beli sejumlah saham BUMN, terutama saham di sektor konstruksi dan infrastruktur. Pertimbangannya, saat ini, banyak proyek infrastruktur pemerintah, yang akan berdampak pada kinerja emiten konstruksi dan infrastruktur. Aji menyarankan sejumlah saham BUMN konstruksi yang layak dipertimbangkan, di antaranya Jasa Marga (JSMR), Waskita Karya (WSKT) dan PT PP (PTPP).