Berita

TPIA : Pendapatan Harus Tumbuh 8% di 2019

Masa-masa mencari sumber pendanaan nominam besar untuk ekspansi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) telah berakhir. Sekarang, saatnya mulai memetik hasil awal dari ekspansi tersebut. Direktur TPIA Suryandi menjelaskan, perusahaan ini selalu memakai basis pertumbuhan ekonomi untuk menghitung pertumbuhan pendapatan dari segmen produk polietilena dan polipropilena. Asumsinya, perekonomian tumbuh sekitar 5% tahun depan. “Maka pertumbuhan keduanya sekitar 7% hingga 8%,” ujar Suryandi akhir pekan lalu, Jumat (23/9).

Asal tahu saja, polietilena dan polipropilena merupakan bahan baku di industri plastik. Keduanya merupakan produk utama TPIA. Hal itu tercermin dari dominasi kedua produk tersebut terhadap total pendapatan penjualan perusahaan di pasar domestik. Di semester I2018, pendapatan dua produk ini tercatat sebesar US$ 572,16 juta, setara 59% dari total pendapatan US$ 968,91 juta.

Target pertumbuhan 7% hingga 8% memang tergolong target yang konservatif dan kisaran tersebut juga digunakan untuk target kinerja hingga akhir tahun ini. Namun, masih ada peluang bagi TPIA untuk mencetak kinerja keuangan yang lebih moncer. Ana Park, analis Macquarie Securities Korea Limited, memprediksi, komoditas polietilena global bakal keluar dari kondisi kelebihan pasokan pada 2019.

Ini terjadi karena menurunnya kapasitas produksi polietilena Asia. Bahkan, penurunannya mencapai 61%, dari semula mendekati level 1,4 juta ton di tahun ini, menjadi kurang dari 400.000 ton tahun depan. “Itu akan baik bagi laba operasi TPIA,” tulis Ana dalam riset 19 September. Penurunan tersebut akan membuat margin polietilena global naik menjadi US$ 78 per ton tahun depan. Ana menyebut, setiap kenaikan margin polietilena sebesar US$ 10 per ton akan mampu membuat laba operasi TPIA naik US$ 3,4 juta per ton.

Itu menjadi salah satu alasan Ana masih mempertahankan rating outperform saham TPIA. Target harganya 12 bulan ke depan sebesar Rp 5.742 per saham. Akhir pekan lalu, saham TPIA naik 2,13% ke level Rp 5.025 per saham. Dari sisi kinerja, pada semester I-2018 laba bersih TPIA tercatat mencapai US$ 115,5 juta, turun 33,7% dibandingkan dengan capaian laba bersih semester I-2017. Padahal, per 30 Juni 2018, TPIA berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar US$ 1,28 miliar, naik 7,6% dibanding semester I-2017.

Suryandi mengungkapkan, laba bersih perusahaan ini tergerus oleh kenaikan biaya bahan baku, terutama biaya nafta. Selain itu, volume penjualan TPIA juga mengalami penurunan. Plus, di semester I-2018 lalu, produksi TPIA sedikit terhambat. Sebabnya, shutdown pabrik butadiena untuk turnaround maintenance dan tiein untuk de-bottlenecking.